BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 08 Maret 2010

Pangeran Komikku


Oleh: suprapti
Kaze ga fuite itai kienai omoi...” terdengar alunan Opening Song Naruto berjudul Chaba oleh Mikoto-kun tengah diputar oleh laptop hp mini 1179 pink di kamar bercat warna hijau. Masih di tempat yang sama tampak Kertas-kertas A4, penggaris, macam-macam komik, pensil, pulpen, rapido, penghapus, dan drawing pen betebaran. Kamar yang berantakan seperti itu sudah sering terjadi mendekati deadline. Begitu juga yang terjadi sekarang, besok adalah deadline pengumpulan lomba. Lomba komik Japan matsuri tepatnya, diselenggarakan oleh organisasi pecinta kebudayaan jepang yaitu Onigiri di kampus ka Tio kakaku.
Aku adalah siswa baru SMA Negeri 4 Bogor, baru dua minggu yang lalu aku resmi diterima sebagai siswi SMA setelah sebelumnya melewati Masa Orientasi. Sebagai seorang Otakku atau pecinta jepang aku sangat berterima kasih pada kakaku yang manis dan baik hati yang selalu memberikan info jepang-jepangan yang meliputi lomba, festival, seminar dan workshop. Ka Tio bergabung dengan onigiri di kampusnya karena aku bukan mahasiswa jadi tidak boleh menjadi anggotanya. Di sekolah ku belum ada club pecinta jepang, jadi agar aku bisa terus up date informasi aku terus menempel kakak, untuk selalu pergi bersama dimana pun ada acara yang berbau-bau jepang, itupun jika aku diajak dan jika tidak diajak tentunya aku akan memaksa agar kakak bersedia mengajakku.
Lomba komik Japan Matsuri yang betema “let’s love japan culture” ini merupakan lomba komik pertama yang aku ikuti. Aku ingin mencoba membuat komik karena aku suka menggambar. Kemampuan menggambar yang aku miliki  bukan karena turun secara genetik karena orang tuaku jago menggambar, namun keahlian ini aku peroleh secara otodidak. Penyebab aku senang dengan seni rupa ini sebenarnya bukanlah karena memang tertarik dengan menggambar namun karena sifat arogansi yang aku miliki yang menyebabkan aku tidak mau mengalah. Kira-kira setahun yang lalu ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP, temanku dengan bangga memamerkan gambar buatannya. Aku yang tidak mau kalah kemudian berjanji pada diri sendiri bahwa besok akulah yang akan memamerkan gambar seperti dia. Sungguh sikap yang kekanak-kanakan. Malam itu juga saat aku menonton serial kartun favoritku Yuu Yuu Hakusho, aku memperhatika tokoh kartun favoritku yaitu Urameshi Yosuke. Selama jam tayang 30 menit, tidak sedetik pun aku memalingkan fokus dari jagoanku itu, kecuali saat iklan tentunya. Closing song yang berjudul Never Ending Dreams mengakhiri kegiatan menggambarku saat itu, gambar pertamaku Urameshi Yosuke yang masih sangat kaku akhirnya selesai juga. Berawal dari rasa iri yang memaksaku menggambar itu aku merasakan kesenangan yang tidak akan aku dapatkan dari kegiatan yang lainnya. Setelah itu aku menggunakan waktu-waktu luangku untuk menggambar.
Sejak dini hari tadi tepatnya pukul 3.00 WIB aku sudah bangun, padahal aku baru tidur pukul 1 tegah malam tadi. Menjelang satu hari menjelang hari H deadline pengumpulan karya, aku memang kerja lembur membabi buta. Aku memang terbiasa mengerjakan tugas lomba menjelang detik-detik terakhir rasanya menyenangkan ketika menyelesaikan tugas di ujung tanduk seolah-olah merupakan pekerjaan yang sangat menantang. Cara aku menyelesaikan tugas lomba ini sangat berbeda dengan cara aku ketika mengerjakan tugas dari sekolah. Sebagai seorang pelajar aku tentunya harus rajin belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah tepat waktu kalau memang bisa lebih baik itu lebih baik. Cara   belajarku yang konstan dan teratur merupakan kunciku untuk menjadi juara umum di sekolah.
 “trereret tereret tereret....” Oh Em Ji alarm jam wekerku sudah berbunyi tepat pada jam 6.30 pagi. Aku langsung membereskan kamar yang berantakan dengan tergesa-gesa. Semua alat gambar aku masukan ke dalam tas khusus perlengkapan gambar, dan meletakkannya di meja belajar. Komik ku taruh di rak buku, bersama dengan buku-buku lainnya. Setelah kamarku sedikit tampak normal aku langsung berlari ke kamar mandi. Mungkin kalau tidak ingat kebersihan adalah sebagian daripada iman, aku sudah langsung mengganti baju tidur dengan seragam dan langsung pergi ke sekolah. Beruntung aku mengetahui hal tersebut, jika tidak pasti teman-teman kelas khususnya teman sebangkuku akan menjepit hidungnya memakai jepitan jemuran untuk menghindari bauku yang tidak sedap.
Jarak dari rumah sampai sekolah kira-kira 7 km dan dapat ditempuh selama 15 menit menggunakan angkot namun, jarak tempuh tersebut dapat bertabah jika kereta Sukabumi-Bogor lewat. Mobil angkot berhenti tidak di depan sekolah, hanya sampai gang sekolah saja. Jarak gang tempat pemberhentian angkot sekitar 400 meter dengan waktu tempuh 10 menit dengan atau tanpa macet. Aku lebih memilih jalan kaki dibandingkan naik ojek karena sayang akan uang, uang itu dapat tabung untuk  membeli komik, buku serta alat gambarku.
Deadline komik yang tinggal 1 hari lagi, menyebabkan aku kerja lembur dan membuat aku kesiangan berangkat ke sekolah. “Meysha” sapa suara laki-laki dari belakangku sambil menepuk bahu yang lunglai karena kecapean begadang. Ketika aku menengok betapa senangnya hatiku orang yang pertama kutemui hari ini adalah si tampan Rio, Sawada Mario adriano tepatnya. Si putih tampan, berhidung mancung, berambut spike dan bermata sedikit sipit karena memang keturunan jepang. Aku menyukai Rio sejak pertama aku melihatnya di Masa Orientasi. Aku mulai dekat dengan Rio sejak Rio melihat binder kumpulan gambar yang aku buat, dia tampak menyukai gambarku karena dia juga hobi menggambar. Rio menyodorkan sebuah binder berisi gambar anime atau tokoh kartun khas jepang yang bermata besar. Binder itu sudah menginap ditempatnya selama 1 minggu lamanya, saat seperti ini aku merasa ingin menjadi binder yang bisa menginap di rumah Rio. Sepanjang perjalanan ke sekolah Rio tak henti-hentinya mengomentari dan tak jarang memuji hasil gambar buatanku. Rasanya aku senang sekali.
SMA oh SMA. Kata orang masa SMA merupakan masa yang paling indah. Aku pun mulai merasakannya setelah mengenal Rio. Selain  untuk menuntut ilmu dan mendapatkan uang jajan dari orang tua, alasan lain yang membuatku semangat untuk pergi ke sekolah adalah bertemu Rio. Tahun pertamaku di SMA berjalan baik, aku sekelas dengan Rio. Kedekatanku dengannya tak jarang menimbulkan gosip diantara teman sekelas. “ciiee ciiee” sudah sering aku dengar jika aku sedang berdua dengannya. Teman-teman dekatku pun sering berkata kalau aku dan Rio merupakan pasangan yang serasi. Pernah suatu hari aku mendengarkan percakapan antara Andi dan Alfi teman sekelasku. “orang yang cocok buat meysha siapa ya?” kata Andi, Alfi teman menjawab “Riolah, sama-sama pinter trus sama-sama pada suka komik lagi, serasikan” jawabnya. Aku yang mendengar mereka hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Rio yang senang bercanda tak jarang membelai kepalaku sambil memanggilku “istriku” gombal tapi sangat membuatku senang. Panggilan tersebut semakin membuat temen-temen semangat untuk mengejek kami.
Mendekati akhir semester 2 kelas 10, aku, Rio dan temen-teman lain yang sama-sama menggilai manga, anime dan menggambar membentuk sebuah forum yang diberi nama Manga Knight terdengar narsis memang namun sangat menyenangkan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Kami memiliki suatu projek dan masing-masing orang memiliki profesi yang berbeda. Forum manga knight kami terdiri dari yayoi si ilustrator utama, kura dan Rio si asisten ilustrator, dana si desain kota, helmi si desagner landskap, isha si desaigner armor weapen, harits si master web, denda, dan zabir, dan oo di hrd, gasak sebagai leader, dan aku sebagai ink artis yag bertugas memberikan tinta dan arsiran pada gambar yang telah dibuat oleh yayoi, Rio, dana, helmi, dan isha. Setelah tergabung dalam manga knight hubungan ku dengan rio semakin dekat karena kami sering oulang bersama karena arah rumah yang searah.
The manga knihgt sering menghabiskan waktu sabtu sore untuk pergi ke toko buku seminggu sekali bersama-sama untuk memburu komik-komik baru. Setiap orang memeiliki komik favorit yang berbeda-beda tergantung dengan karakteristik masing-masing.tak jarang kami nantinya hanya kan membaca ditempat tanpa membeli, maklumlah namanya juga pelajar. Saat sedang pergi bersama seperti itu pun aku dan Rio tak jarang menghabiskan waktu berdua berpisah dari teman-teman yang lain. Aku dan Rio biasanya pergi ke bagian buku bahasa jepang meninggalkan teman-temn lain yang membaca buku di bagian komik. Pernah suatu ketika yayoi melihat kami dan dia mendekati kami dan berkata “kalian tuh udah kayak lagi pacaran aja ya, bedua-beudaan mulu” saat itu Rio mulai meninggalkanku karena salting dasar anak kecil pikirku. Saat pulang dari toko buku biasanya waktu sudah menunjukan jam 8 malam. Aku dan Rio memiliki jalan yang searah, jadi kami pulang bersama.
Bakat yang besar yang terdapat dalam diri Rio snagat sayang jika hanya dibiarkan saja. Untuk mengembangkan bakat yang terdapat dalam dirinya, ia bergabung dengan satu buah redaksi koran yang terdapat di kota bogor. Iya menjadikartunis di koran harian  tersebut. Ketika ia sedang mendapat masalah ia selalu menceritakannya padaku untuk bertukar pikiran, begitu juga denganku ketika memiliki masalah maka takkan segan untuk selalu menceritakan padanya.
Rio bukan satu-satunya sahabatku, aku juga memiliki empat orang sahabat yang lain. Namun aku merasa Rio memiliki perhatian yang lebih terhadapku. Kadang perhatian yang berlebihan tersebut sering membuat aku merasa kegeeran, wajarlah wanita itu selalu merasa luluh jika ada seorang laki-laki yang memperhatikannya.
Memasuki tahun ke dua masa SMA aku dan Rio berada di Kelas yang berbeda. Pelajaran yang kamk terima di kelas 11 semakin sulit. Setiap hari kami selalu mendpatkan pekerjaan rumah untuk menguji pemahaman. Setiap hari Rio selalu mengirimi aku sms untuk menanyakan tugalah, menyamankan jawabanlah, dan menyampaikan masalah yang terjadi padanya. Semua smsnya selalu aku balas. Komunikasi kami tidak pernah putus meskipun kami berbeda kelas. Pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai dia selalu mengunjungi kelasku, itu berjalan setiap hari selama 1 tahun sepanjang aku di kelas 11. Jika dikelas masih sepi dan Rio belum ke kelasku maka aku akan mengunjungi kelasnya. Teman-teman kelas kami semakin sering menanyakan status hubungan kami. Aktiivitas pulang bersama dan berdiskusi bersama di perpustakaan membuat keyakinan mereka mengenai hubungan pacaran kami semakin kuat. Namun sebenarnya tidak terjadi seperti yang mereka kira. Rio memang sangat memperhatikan aku namun sebenarnya akau pun bertanya-tanya dia mengangap aku sebagai apa? Itu merupakan tanda tanya yang amat sangat besar. Angapan teman-teman ku mengenai hubungan kami akhirnya meyakinkan aku bahwa Rio menyukaiku. Ungkapan cinta tidak pernah keluar dari mulutnya. Akhirnya aku hanya merasa digantungkan olehnya. Namun aku tetap merasa senang selama Rio bersikap baik padaku.
Hari-hari kelas 11 kami pun berjalan dengan sangat menyenangkan. Saat-saat terakhir di kelas 11, saat ujian akhir semester 2. Aku selalu belajar bersama bersama Rio sebelum ujian berlangsung. Namun segalanya itu berubah, sikap Rio padaku berubah. Kelas 12 aku dan Rio berada dikelas yang sama. Dia tidak pernah mengirim sms padaku, dan dia tidak pernah membalas smsku ketika aku mengirimkan smsnya. Aku sering menangkap basah Rio dikelas sedang memperhatikan aku namun ketika aku memalingkan wajah kepadanya dia langsung mengacuhkanku dan bersikap seolah tidak memperhatikan aku. Rio tak pernah menyapaku jika aku bertemu denganya sedang berjalan dengan teman-temannya di lorong. Rio tak pernah menyapa maka akupun juga tak menyapanya karena aku berpikir dia sudah tidak mau berteman lagi dengaku dan aku takut dia akan merasa tidak nyaman bila kau mendekatinya. Aku merasa sangat bingung atas semua perubahan sikapnya. sebulan lamanya Rio tetap bersikap seperti itu padaku.
Tiga hari berturut-turut Rio tidak masuk ke sekolah tanpa alasannya. Hari Kamis setelah pulang sekolah pukul 15.00 aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumahnya. Aku pikir dia sakit. Ini kunjungan kali pertamaku ke rumahnya. Tidak sulit untuk mencari rumah Rio karena rumahnya terletak di kompleks Bogor Nirwana Residenses yang ada di dekat sekolah. Aku pergi ke rumahnya menggunakan ojek. Karena kompleks perumahan Bogor Nirwana Residenses sangat luas.
Ketika aku sampai di kluster Agra Buana no 2, tampak di depan rumah tingkat dua bercat warna kuning cerah itu tampak seorang wanita berumur 40an sedang merapikan tanaman. aku pun mengucapkan salam yang dijawabnya dengan jawaban yang ramah. Ibu Rio bernama Tante Anita. Kata tante sekarang rio sedang tidak ada di rumah. Tante anita merupakan wanita yang sangat baik, ketika aku memperkenalkan diri beliau langsung menyambutku dengan sangat baik. “kamu nak Meysha? Rio sudah sering cerita kalau kamu anak yang sangat pintar dan baik. rio juga sering berkata kalau dia sangat sayang kepadamu. Sekarang ibu tahu keap Rio sangat sayang kepadamu dan sangat tidak mau meninggalkanmu.” Aku yang mendengar perkataan ibu rio menjadi bingung kenapa beliau mengatakan rio tidak mau meninggalkan aku? Memangnya akan peargi kemana rio? Tanyaku. Tante anita menjelaskan bahwa akhir bulan ini seminggu dari sekarang rio beserta keluarga akan pergi pindah ke jepang berhubungan dengan pindah tugas ayahnya yang seorang duta besar. Rio tidak masuk sekolah karena mengurus surat-surat kepindahan sekolah dan mengurus pasport. Bukan untuk pertama kalinya keluarga rio pergi ke jepang karena saudara-saudara dari pihak ayah adalah orang jepang asli yang bermarga sawada. Aku tidak pernah menyangka bahwa rio akan menetap di jepang untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak tahu kapan rio akan kembali ke jepang. Seteah mendengar semua penjelasan itu kembali ke ruma, aku bingung harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan, dan bagaimana sikapku pada rio. Sekarang aku mengerti mengapa rio menjauhi ku.
Langit sore yang membuat warna langit menjadi berwarna-warni, namun tidak begitu dengan warna hatiku. aku hanya termenung di depan meja belajarku sampai ibu memanggil bahwa ada anak laki-laki yang mencariku. aku segera menuju ruang tamu untuk menemui orang yang mencariku itu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat orang yang sedang duduk di sofa berwarna ungu diruang tamuku itu adalah Rio. Rio yang melihat kedatanganku langsung memelukku sambil meminta maaf. Tidak terasa mataku panas dan air mataku meleleh membasahi pipi ketika aku dipelukannya. Rio meminta maaf atas semua siap yang mengecuhkanku. “aku bingung aku harus bersikap bagaimana, aku tidak  mau pindah sekolah. Tapi ini berhubungan dengan tugas ayah. Aku berfikir kalau aku dekat denganmu aku semakin tidak mau berpisah. Maafkan aku meyiha” paparnya. “meskipun kita jauh, kita kan bisa chating setiap hari, bisa smsan, bisa wall-wallan, bisa email-emailan gak papa ko rio sekarang kan zaman modern jaraktuh buka penghalang.” Ataku untuk menyemangatinya. Rio puntersenyum. “aku harapn kamu dapat enunggu aku” kata rio, “ai siteru” lanjutnya. “arigato” jawabku. Matahari sudah tenggelam, langit pun telah menghitam. Tepat pukul 19 petang rio pamit dari rumahku. Itu adalah kai terakhir aku bertemu dengan rio sebelum kepergiannya ke jepang.
Sudah dua tahun sejak ke pergian rio ke jepang. Setiap hari kami terus berhubungan baik melalui facebook, sms maupun email. Hari ini adalah hari pertama aku memasuki dunia perkuliahan. Aku masuk ke kampus negeri satu-satunya di kota ku kampus yang sama dengan kakakku.. Tidak langsung kuliah karen atentunya harus melewati masa perkenalan kampus mahasiswa baru atau lebih di kenal dengan sebutan OSPEK. Aku mengambil jurusan desain grafis karena aku sangat menyukai desain grafis. Jadi ingat dulu aku sring menceritakan kecintaanku itupada desain grafis pada rio. Pagi-pagi buta pukul 5.30 aku dan teman-temn mahasiswa baru sudah berkumpul di parkiran departemen desain grafis masih remang-remang. Pukul 5.45 acara pembukaan resmi dibuka. Semua mahasiswa baru yang yang datang terlambat di posisikan di barisan yang berbeda di sebelah kanan. Setelah pembukaan mahasiswa-mahasiswa yang terlambat tersebut langsung di suruh berjalan jongkok untuk berbaris di depan peserta apel. Di antara mahasiswa yang terlambat aku menangkap sosok laki-laki yang berhidung mancung, bermata sipit, dan berambut spike. Laki-laki yang sangat aku rindukan. Rio dan aku berada di jurusan yang sama dengan ku.
Waktu istirahat akhirnya tiba, kegiatan yang melelahkan akhirnya berhenti sejenak. Namun bukan tanpa pengawasan, panitia tetap berjaga untuk ketetiban kami. Rio datang mengahampiriku, aku sudah siap dengan banyak pertanyaan di otakku untuk dilontarkan namun saat itu jari rio langsung ditempelkan pada dibibirku untuk mencegah aku bicara. seolah sudah mengetahui apa yang akan aku lakukan. “aku datang jauh-jauh ke jepang, aku bertekat tidak ingin kalah lagi darimu. Dan aku kembali lagi kemari hanya untuk membuktikannya kepada Mu” setelah mengatakan itu dia langsung memelukku erat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar